Blog Details

Ibrahim Traoré Mengubah Penjahat

Di Burkina Faso, Ibrahim Traoré Mengubah Penjahat Menjadi Pahlawan Pangan

abdifoundation,id – Presiden Burkina Faso, Ibrahim Traoré, dikenal sebagai pemimpin muda yang berani berpikir di luar kebiasaan. Sejak naik ke tampuk kekuasaan melalui kudeta militer tahun 2022, Traoré menghadapi tantangan besar: krisis ekonomi, krisis pangan, serta ancaman terorisme yang terus mengguncang negaranya.

Di tengah situasi tersebut, ia mengambil langkah radikal—alih-alih memenjarakan pelaku kejahatan, Traoré justru mengubah mereka menjadi petani.

Penjara: Simbol Keadilan atau Sekolah Kriminal?

Di banyak negara, penjara identik dengan tempat menegakkan hukum dan keadilan. Namun realitanya, tidak jarang penjara justru menjadi “sekolah kriminal.”

Seseorang yang awalnya dipenjara karena mencuri ayam, bisa keluar dengan kemampuan dan jaringan untuk melakukan kejahatan yang lebih besar, misalnya perampokan bersenjata.

Selain itu, penjara juga menjadi beban berat bagi negara, terutama di negara miskin. Pemerintah harus mengalokasikan dana besar untuk memberi makan tahanan, membiayai layanan kesehatan, serta menggaji aparat pemasyarakatan.

Padahal dana tersebut sebenarnya bisa dialihkan untuk pembangunan sekolah, rumah sakit, infrastruktur, atau program kesejahteraan rakyat lainnya.

Traoré: Dari Hukuman ke Transformasi Sosial

Ibrahim Traoré menilai bahwa penjara bukanlah solusi jangka panjang, apalagi untuk negara seperti Burkina Faso yang tengah menghadapi krisis multidimensi. Ia percaya bahwa pelaku kejahatan tidak selalu harus kehilangan martabatnya.

Sebaliknya, mereka bisa diberi kesempatan untuk berubah melalui pendidikan, pekerjaan, dan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Dari pemikiran inilah lahir sebuah kebijakan revolusioner: pelaku kejahatan ringan tidak dikurung di balik jeruji, melainkan dikirim ke lahan pertanian yang dijaga oleh tentara dan masyarakat.

Di sana mereka bekerja mengolah sawah dan ladang, menanam padi, jagung, sorgum, hingga kacang tanah.

Dari Narapidana Menjadi Petani

Program ini bukan sekadar kerja paksa. Pemerintah menyediakan pelatihan pertanian modern, peralatan kerja, bahkan insentif hasil panen.

Dengan demikian, para pelanggar hukum merasakan bahwa kerja mereka bukan hanya hukuman, melainkan jalan untuk memperbaiki diri dan memberi manfaat bagi bangsa.

Hasil pertanian yang mereka produksi sebagian masuk ke lumbung negara, sebagian lagi untuk keluarga mereka, dan sisanya untuk masyarakat Burkina Faso yang sering dilanda kelaparan.

Dengan cara ini, mereka bukan hanya “menebus kesalahan,” tetapi juga berkontribusi nyata dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional.

Dampak Ganda: Menekan Kriminalitas dan Memperkuat Ketahanan Pangan

Kebijakan ini menimbulkan dua dampak besar:

Menekan Kriminalitas
Banyak orang yang tadinya hidup di jalanan tanpa pekerjaan kini mendapatkan keterampilan baru. Setelah masa rehabilitasi, mereka bisa kembali ke desa masing-masing dengan bekal kemampuan bertani.

Alih-alih kembali mencuri, mereka bisa menjadi petani yang mampu menghidupi keluarga.

Mengatasi Krisis Pangan
Burkina Faso sebelumnya sangat bergantung pada impor pangan, padahal tanahnya subur. Dengan ribuan orang yang diberdayakan di sektor pertanian, produksi pangan meningkat drastis.

Hal ini bukan hanya mengurangi kelaparan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi negara.

Inspirasi untuk Dunia, Termasuk Indonesia

Langkah Ibrahim Traoré ini mengundang perhatian internasional. Ia menunjukkan bahwa solusi terhadap kejahatan tidak selalu harus berujung pada pemidanaan konvensional, melainkan bisa melalui pendekatan transformasi sosial yang produktif.

Pertanyaannya, apakah Indonesia berani mencoba pendekatan serupa?

Dengan jumlah narapidana yang terus meningkat dan masalah ketahanan pangan yang masih menjadi PR besar, ide seperti ini patut dipertimbangkan.

Bukankah lebih baik meniru kebijakan baik dari negara lain, jika memang bisa memberi manfaat besar bagi rakyat?

Sebagai anak bangsa, mari belajar dari keberanian Burkina Faso. Karena keadilan sejati bukan hanya menghukum, tetapi juga memberi kesempatan untuk berubah dan berkontribusi.

***

Catatan, IGM Ardikabudi, ikut membina yayasan Anak Bangsa Mengabdi 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kolaborasi

klik gambar!

Informasi

Abdi Thrift & Preloved... Colab with
BAZNAS Charity Store