abdifoundation.id – Pagi ini, publik diramaikan dengan kabar yang viral dan menjadi tren di media-media papan atas: “Menteri Keuangan Sri Mulyani: mundur atau dicopot?”.
Judul-judul berita itu seolah menegaskan hanya satu hal: drama tentang proses berhentinya Sri Mulyani sebagai menteri keuangan.
Sebagian pihak menyebut (mungkin), bila ia memilih mundur maka itu adalah jalan terhormat—tanda protes terhadap sistem pemerintahan yang dinilai tidak beres.
Namun dari sudut pandang pemerintah, istilah copot, ganti, atau pecat mungkin bahasa yang dipilih untuk menunjukkan bahwa Sri Mulyani dianggap tidak becus bekerja.
Di balik silang narasi itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah Sri Mulyani benar-benar telah berbuat salah? Apakah ia begitu jahat hingga ingin menghancurkan negeri lewat kebijakan yang ia ambil?
Apakah mungkin seorang Sri Mulyani—dengan latar belakang sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia, dengan pengalaman panjang dipercaya oleh tiga presiden Republik Indonesia—adalah sosok yang tidak mumpuni, tidak cerdas, sehingga kebijakannya selalu salah?
Logika sederhana kita menolak itu. Mustahil Bank Dunia menunjuk orang tanpa kualitas. Mustahil tiga presiden mempercayakan keuangan negara kepada sosok yang dianggap tidak layak.
Maka, benarkah Sri Mulyani yang harus menanggung seluruh beban kesalahan? Ataukah kita sedang melupakan kenyataan yang jauh lebih pahit?

Mengurus negara tidak bisa berdiri sendiri.
Sehebat apapun seorang menteri, ia hanyalah bagian dari sebuah sistem besar. Lihatlah, masalah korupsi masih membelit bangsa ini. Kalau dahulu hanya puluhan miliar, kini nyaris setiap bulan kita mendengar kabar OTT pejabat dengan kerugian negara mencapai triliunan rupiah.
Bukankah ini tanda bahwa yang merusak bukan hanya kebijakan, tapi juga mental pengelola negara?
Mari berhitung: seandainya uang hasil korupsi itu bisa dikembalikan, tidakkah itu meringankan beban negara, mengurangi hutang luar negeri, bahkan memakmurkan rakyat?
Kemarahan publik bisa dimengerti. Tapi apakah pantas kita menuding satu orang seolah-olah ia biang keladi semua persoalan? Bukankah negeri ini dikenal dengan sopan santun dan tata krama yang tinggi? Mengkritik itu perlu, tapi menjadi barbar bukanlah jawaban.
Kini saatnya kita merenung.
Sri Mulyani mungkin bukan malaikat. Ia bisa salah. Tapi apakah pantas menyebutnya jahat?
Atau sebenarnya, bangsa ini sedang butuh kesadaran bersama, bahwa menyelamatkan negeri tidak bisa ditumpukan pada satu orang, melainkan pada seluruh elemen bangsa.
Ayo Presiden, para pemimpin daerah, jajaran pengelola negara dari pusat hingga desa. Mari kita berpikir. Mari kita bertindak. Siapa lagi yang akan menyelamatkan negeri ini, jika bukan kita semua?
Tanda-tanda kehancuran sudah sering muncul di depan mata: penjarahan, pembakaran, konflik, hingga lunturnya kepercayaan rakyat.
Dan akhirnya, kita hanya bisa berdoa:
Ya Tuhan, selamatkanlah negeri kami, berikan kesadaran dan hidayah untuk mereka pemimpin dan pengelola negeri yang telah salah jalan.
***
penulis, IGM Ardikabudi, pembina yayasan Anak Bangsa Mengabdi
3 Responses
Mantap benar sekali pak
Bisa menambah literasi dan informasi bahwa negara kita saat ini adalah kebobrokan moralitas dari setiap individu pejabat yg tidak pro ke rakyat dan bangsa akan tetapi berfungsi hanyalah mementingkan pribadi semata .jadi siapapun Mentri dan presiden serta pemangku jabatan kalau tidak berdasarkan kembali kepada moral yg benar maka indonesia hanya di pimpin oleh orang orang yg tidak memilki empati terhadap negara dan rakyat .salam akal sehat dan terus lah untuk menyuarakan informasi yg kredibel dan transparan untuk membangun dan mengawal indonesia maju dan indonesia emas 2045