abdifoundation.id – Hari ini berbagai media internasional memberitakan sebuah tragedi yang mengguncang nurani: Menteri Keuangan Nepal menjadi sasaran amuk massa. Ia dikejar, ditendang, bahkan beberapa laporan menyebut sampai ditelanjangi.
Tidak berhenti di situ, rumahnya dibakar, dan kabar paling memilukan—sang istri dikabarkan tewas terjebak api.
Ngeri sekali… Membaca berita ini membuat dada sesak. Betapa cepat amarah rakyat bisa berubah menjadi gelombang destruktif. Semoga hal serupa tidak terjadi di negeri tercinta, Indonesia.
Namun jika kita jujur, gejala serupa boleh dikata sudah muncul di tanah air. Ingat bagaimana beberapa pejabat dan tokoh publik seperti Sahroni, Eko, bahkan Uya Kuya sempat merasakan amarah massa. Belum lama kajadiannya.

Bahkan menteri keuangan kita sendiri sudah menjadi korban demonstrasi anarkis, yang berujung mundurnya (dicopotnya) ibu menteri. Untungnya, keadaan segera terkendali sehingga tak berkembang menjadi tragedi kemanusiaan.
Lantas, bagaimana kita menilai kejadian di Nepal? Apakah itu murni anarkisme, atau sebuah bentuk people power?
Bisa jadi keduanya: sebuah gerakan rakyat yang lahir dari luka mendalam, namun meledak dalam bentuk anarkis.
Satu hal yang tak boleh dilupakan para pemimpin negara: tidak ada asap tanpa api. Apa yang mendorong rakyat sampai berbuat demikian?
Jawabannya sederhana namun pahit—kesenjangan sosial yang kian melebar, dan budaya korupsi yang merajalela.
Ketika pejabat dengan gagah berani mempertontonkan kemewahan, sementara rakyat terengah-engah mencari sesuap nasi, maka luka itu terus menumpuk.
Apalagi di era kamera yang merekam segalanya, setiap kesenjangan bisa disaksikan jutaan mata dalam hitungan detik. Dan ketika amarah rakyat sudah menembus batas, siapa pun bisa menjadi sasaran.
Pelajaran dari Nepal ini penting bagi kita di Indonesia.
Negeri kita begitu subur dan kaya raya, namun sangat disayangkan bila energi rakyat berubah menjadi bara anarkis hanya karena para pemimpinnya gagal menjaga amanah.
Semoga para pejabat kembali ke jalan yang benar: uruslah negara dengan baik, makmurkan rakyatnya, jauhi korupsi, dan ingat bahwa jabatan hanyalah titipan.
Jangan sampai Indonesia yang damai ini berubah menjadi arena people power yang anarkis. Ya Tuhan, lindungilah Indonesia.
***
Catatan, IGM Ardikabudi, ikut membina yayasan Anak Bangsa Mengabdi